Indonesia Contemporary Art

Soulscape

MELACAK RUANG SPIRITUAL DAN PENDALAMAN NILAI ESTETIKA SEBAGAI MANIFESTASI PROSES KREATIF

Deteritorialisasi spiritual adalah kehidupan spiritualitas yang tanpa kedudukan, kepastian atau ketetapan.  Hidup mengalir mengikuti energinya sendiri, dalam keseketikaan dan kesesaatan yang terus-menerus, tanpa ada konsistensi menuju pada sebuah tujuan yang pasti.
[Guattari]

Pengembaraan perenungan dan pemikiran seorang seniman dalam beberapa sisi tinjauan teks mengenai soulscape tampaknya seperti sebuah proyek ambisius. Betapa tidak, subject matter yang menjadi bingkai proses kreatif sekaligus dasar-dasar pemikirannya adalah jiwa.  Sejatinya tujuh seniman inipun berpotensi meledakan kebuntuan-kebuntuan dengan lebih ambisius lagi untuk menjadikannya sebagai gerilya jiwa. Jiwa yang intersubjektif, jiwa yang tak terperi dan jiwa yang tak mudah untuk mengeksplorasi tanda-tanda ketika kita tak bersungguh-sungguh meletakan kesadaran mengamatinya, merasakannya, menjumputnya sebagai kesadaran spiritual yang dianyamnya sebagai scape. Jiwa dijelajahi melalui pelbagai cara pembentangannya mulai dari pendedahan dunia kehidupan sehari-hari dengan memperlihatkan pelbagai aspek fenomenologis, dunia tanda yang dihantamkan persis di hadapan kita dengan perubahan besar budaya dan pencapaian puncaknya pada hiperrealitas media, dan membentangkan pelbagai dimensi-dimensi dunia realitas kontemporer dengan kompleksitas perubahannya hingga pada penjelajahan spiritual dan religi. Sebuah dunia baru bagi orang lain ketika tak muncul artikuasi meskipun baginya secara personal menjadi sebuah ikatan psikis yang sangat dipahaminya hingga diyakininya sebagai ruh tak terpisahkan.

Upaya pembacaan kembali interelasi teks visual maupun konseptual muncul berdampingan dengan aspek kontekstual dimana teks tersebut terlahir. Teks lahir karena tuntutan aspek kreatif dimana kebaruan menjadi mengedepan maupun muncul sebagai sebuah tanggapan kritis terhadap fenomena tertentu yang membangunnya. Pencermatan terhadap teks-teks yang berserak pada serangkaian proses kreatif seorang kreator seringkali dilakukan secara berjarak oleh seorang penulis yang sama sekali tak pernah terlibat secara totalitas emosional pada proses tersebut. Tampaknya menarik ketika proses pembacaan dan pendokumentasian dilakukan oleh penulis yang memiliki hubungan/relationship begitu dekat atau malah perupa tersebut yang menuliskan pemikiran dan proses kreatifnya hingga proses pembacaannya dengan pola bersilang, artinya diantara perupa saling melakukan pembacaan secara bergantian dalam proses bedah karya sebagai konfirmasi. Dalam hal ini penulis hendak menginventarisasi data sebagai upaya merumuskan kembali ruang spiritual, pemikiran dan pendalaman estetika yang berserak. Penelusuran ruang spiritual lazim digali melalui pendekatan spiritualitas sebagai nilai yang disematkan dalam gugus pencitraan atas gagasan-gagasan kreatifnya, disamping tentu konsepsi dan pernyataan sikapnya.

Artists: AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi, Yusron Mudakhir

Officiated by Ong Hoei Djien

Start Time: February 23, 2010 at 7.30 PM
Venue: Taman Budaya Yogyakarta

Agenda:
Konferensi Pers
Hari Selasa, 23 Februari 2010, pukul 16.00 WIB
di Taman Budaya Yogyakarta

Peluncuran Buku dan Bedah Buku
Hari Kamis, 25 Februari 2010, pukul 16.00 – 18.00 WIB
‘SOULSCAPE : The Treasure of Spiritual Art’
Penulis: AA Nurjaman, Anton Larenz, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, Sulebar M Soekarman

Artist Talk
Hari Kamis, 25 Februari 2010, pukul 18.30 – 21.00 WIB

Talkshow di Radio RRI Pro II 102.5 FM
Hari Sabtu, 27 Februari 2010, pukul 15.30 – 16.30 WIB
Live dan interaktif.

Pemutaran Film Abstrak
28 Februari s.d. 4 Maret 2010, pukul 16.00 – 18.00 WIB

Pameran selanjutnya di Tonyraka Art Gallery, Bali
3 Juni – 3 Juli 2010


Curatorial, Events, Exhibition