Siklus – curatorial

Siklus

Setelah penampilan bersama dalam tajuk ‘’Nyawa Senyawa’’ di Danes Art Veranda pada tahun 2007, kini empat perupa muda ini — Dewa Gde Agung, Rio Saren, I Wayan Januariawan alias Donald dan Putu Edy Asmara Putra – hadir dalam pameran bersama dalam tajuk ‘’Siklus’’ di Gaya Art Space. Bila pada ‘’Nyawa Senyawa’’ eksplorasi substantif para perupa muda ini – mereka masih mahasiswa di ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar — adalah hal-hal di seputar proses yang berkaitan dengan kelahiran, pada ‘’Siklus’’ mereka menghadirkan semacam potret diri tentang eksplorasi kreatif masing-masing, dengan gaya serta idealisme masing-masing pula.

Seumpama proses ketika tampil dalam ‘’Nyawa Senyawa’’ adalah masa-masa brahmacari, yakni masa nakal dan memberontak yang spontan dan sulit ditebak arahnya. Kini, penampilan di ‘’Siklus’’ ini seumpama tahapan menjelang grahasta, yakni masa ketika mereka menyiapkan diri naik pelamiman kreatif, kawin dengan kenyataan yang realistik di seputar kehidupan kesenian. Sisa-sisa nakal masa remaja dan brahmacari-nya masih terasa, dan barangkali kreativitas kesenimanan senantiasa membutuhkan semangat memberontak ini, kendati mereka sudah menjelang masuk masa grahasta secara kreatif. Sampai sejauh ini, pemberontakan dari sebagian mereka adalah perjuangan eksistensial, belum menjadi sesuatu yang mengguncang, baik jagat seni rupa yang heboh diantara fenomena ‘’wacana, pasar, artisanisme serta karya seni sebagai produk’’.

Pemberontakan paling radikal dilakukan oleh Wayan ‘’Donald’’ Januariawan. Bibit pemberontakan muncul secara radikal dalam beberapa karya yang ditampilkan di ‘’Nyawa Senyawa’’ dan semakin kentara dalam pameran ‘’Me Between Us’’ (2007) dan ‘’Silent Celebration’’ (2008) di Tony Raka Gallery Ubud, ketika ia sampai pada pernyataan bahwa ‘’karya-karyanya bukanlah produk’’. Ia menggunakan benda temuan — gedek rusak, bekas pintu, seng rombeng yang berkarat, kain bekas, plastik bekas, perlak tua, kampil bekas

Continue Reading →