<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ArtTitudes &#187; srisasanti arthouse</title>
	<atom:link href="http://arttitudes.org/tag/srisasanti-arthouse/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arttitudes.org</link>
	<description>Indonesia Contemporary Art</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 17:10:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bobvarium &#8211; Bob Sick&#8217;s Anniversary Solo Exhibition</title>
		<link>http://arttitudes.org/exhibition/bobvarium-bob-sicks-anniversary-solo-exhibition.html</link>
		<comments>http://arttitudes.org/exhibition/bobvarium-bob-sicks-anniversary-solo-exhibition.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 01:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[bob sick]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[srisasanti arthouse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1779</guid>
		<description><![CDATA[[ May 26, 2010; 7:30 pm; ] Bulan Mei ini, kami – Srisasanti Syndicate mempersembahkan pameran tunggal seorang seniman eksentrik yang namanya begitu meroket dan jadi buah bibir pada tahun 2007 lalu dengan karya-karya naïf, dan provokatifnya. Dialah Bob Sick Yudhita Agung, seniman asal Yogyakarta yang mengaku mendedikasikan diri dan hidupnya hanya demi seni, sehingga rela merajam dirinya dengan berbagai tato di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/05/Bobvarium.jpg" rel="lightbox[1779]" title="Bobvarium"><img class="alignleft size-full wp-image-1780" title="Bobvarium" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/05/Bobvarium.jpg" alt="" width="200" height="263" /></a>Bulan Mei ini, kami – Srisasanti Syndicate mempersembahkan pameran tunggal seorang seniman eksentrik yang namanya begitu meroket dan jadi buah bibir pada tahun 2007 lalu dengan karya-karya naïf, dan provokatifnya. Dialah Bob Sick Yudhita Agung, seniman asal Yogyakarta yang mengaku mendedikasikan diri dan hidupnya hanya demi seni, sehingga rela merajam dirinya dengan berbagai tato di tubuhnya dari mulai wajah sampai seluruh badan. Bob Sick akan menampilkan sekitar 15 karya lukisnya dengan mengusung tema “Bobvarium”<span id="more-1779"></span> yang menakjubkan dan termasuk salah satu presentasi paling mutakhir dari seni kontemporer kita bulan ini. Pameran ini akan diulas oleh penulis Fery Oktanio dan kutipan tulisan jurnalis Kompas, Ilham Khoiri, yang pernah menulis Bob Sick pada tahun 2008 lalu.</p>
<p>Tema Bobvarium<br /> Bobvarium adalah istilah yang diambil dari nama BOB, dan OVARIUM. BOB dari Bob Sick Yudhita, dan OVARIUM adalah salah satu organ reproduksi pada wanita yang berfungsi menghasilkan ovum (sel telur). Tempat pematangan sel telur juga terjadi di bagian ovarium. Sel telur yang sudah matang akan dilepaskan, dan siap bertemu dengan sel sperma untuk menghasilkan pembuahan dalam rahim, sehingga timbul kehamilan.</p>
<p>Bobvarium dengan begitu, merupakan analogi yang berhubungan dengan proses kreatif Bob Sick, yaitu sebagai ruang motivasi, kreasi dan inkubasi Bob Sick di dalam menciptakan karya-karya baru dan citra diri yang baru, semacam kelahiran kembali (sesuai dengan momen ulang tahun Bob Sick), yang dipersiapkannya dengan seksama.<br /> Bobvarium, istilah ini berkesan maskulin dan feminin. Sengaja dibuat demikian untuk memberikan kesan sexy pada pencitraan Bob Sick yang baru. Tidak lagi melulu sangar dengan berbagai tato di badannya, namun lebih berkesan fashionable, touchable, dan tetap menyimpan misteri. Bob Sick, yang dapat dengan mudah di akses cerita diri, kehidupan, tapi tetap misterius akan makna karyanya yang spontan, dimana hanya Bob yang tahu cerita dibaliknya.</p>
<p>Bob featuring DJ Milinka Radisic<br /> Pameran tunggal kali ini adalah sekaligus merayakan ulang tahun Bob Sick yang bertepatan pada tanggal 26 Mei. Beberapa hal ingin dicapai dalam even pameran kali ini, salah satunya adalah memunculkan pencitraan Bob Sick yang sesungguhnya, sekaligus menandai kemunculan pertamanya bersama dengan lembaga kami, Srisasanti Syndicate. Untuk itu, khusus dalam momen pembukaan pamerannya ini, kami menyandingkannya dengan seorang Female DJ, yaitu DJ Milinka Radisic. Milinka adalah seorang DJ (Disc Jockey) yang berprestasi dan telah memiliki reputasi internasional. Presentasi seni Milinka dalam pameran tunggal Bob Sick, memberikan aksentuasi yang kuat tentang sosok Bob Sick sebagai seniman profesional yang elegan, gaul, dan berkelas.</p>
<p>Sedikit tentang Milinka, dia berdarah campuran Indonesia-Serbia, telah berhasil membangun aksentuasi yang menarik bagi profesi DJ, dan mencapai reputasinya sebagai salah satu ikon kekuatan Female DJ di regional Asia. Milinka merubah perspektif profesi DJ, dari pekerjaan dunia malam menjadi sebuah karir yang serius dan cukup menjanjikan. Ini dibuktikannya dengan meraih berbagai penghargaan sebagai ‘Best Female DJ’, ‘Best Breakthrough DJ’ dan nominasi sebagai ‘Best Indonesian DJ’ tahun lalu, yang merupakan kali pertama dan satu-satunya nominasi DJ perempuan diantara para DJ senior laki-laki dalam peringkat sepuluh besar. Milinka kembali akan meluncurkan album baru keduanya berjudul ‘No Time for This!’ sekaligus mempersiapkan tur Eropa-nya yang akan dimulai pada bulan Juli sampai September 2010 ini.</p>
<p>Opening: Wednesday, May 26, 2010 at 7:30pm<br /> Closing: Saturday, June 26, 2010 at 8:00pm<br /> Venue: Srisasanti Arthouse<br /> Address: Jalan Kemang Raya No. 81 Jakarta</p>
<!-- PHP 5.x -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arttitudes.org/exhibition/bobvarium-bob-sicks-anniversary-solo-exhibition.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Immortal War</title>
		<link>http://arttitudes.org/exhibition/immortal-war.html</link>
		<comments>http://arttitudes.org/exhibition/immortal-war.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 01:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[fazar roma agung wibisono]]></category>
		<category><![CDATA[fery oktanio]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[painting]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[srisasanti arthouse]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1472</guid>
		<description><![CDATA[[ March 24, 2010; 7:12 pm; ] Curated by Fery Oktanio Starting the year of 2010, We - Srisasanti Syndicate will presents a Solo Exhibition of visual art entitled “Immortal War”, featuring two-dimensional works of art from Fazar Roma Agung Wibisono, a talented young artist from Bandung, West Java. Fazar will features approximately 21 of his amazing paintings and one of the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1476" href="http://arttitudes.org/exhibition/immortal-war.html/attachment/immortal-war"><img class="alignleft size-full wp-image-1476" title="Immortal War" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2010/03/Immortal-War.jpg" alt="" width="200" height="270" /></a>Curated by Fery Oktanio</p>
<p>Starting the year of 2010, We &#8211; Srisasanti Syndicate will presents a Solo Exhibition of visual art entitled “Immortal War”, featuring two-dimensional works of art from Fazar Roma Agung Wibisono, a talented young artist from Bandung, West Java. Fazar will features approximately 21 of his amazing paintings and one of the very latest presentations of our contemporary art. The curator of this exhibition is a young curator who also came from Bandung, <span id="more-1472"></span>Fery Oktanio.</p>
<p>About Fazar<br /> Fazar paints with his heart. There is a full comprehension which he beliefs like “devotion”. Fazar paintings tend to be comical (in style of comic) or graphic novel. Fazar paints directly on canvas, through a sketch stage, basecoat, and then color finishing. Fazar does this without planning and without the help of any tools (e.g projector) or designed it first on computer. According to Fazar, what will appear later in his drawing area has been previously etched in his mind. So when he starts to scratch the fist line, the whole picture has been there in his head. The rest is purely a technical issue.</p>
<p>Oil paint is used in acrylic way, with complete color configuration, overlap and minimal gradation. Construction which emerges in his drawing area is his effort to solidify what he feels and it emerges as a composition of lines, colors and visual forms. Fazar gives those forms a relation and not background so they become more focused alone. Fazar offers these visuals as a message not messages in visual form.</p>
<p>War Theme<br /> War, is a mutually agreed theme as a reference for Fazar’s concept of works in his solo exhibition this time. War theme is considered able to accommodate his painting style which is decorative, boisterous and full. But from the beginning Fazar has choose his own war. Fazar’s image of war (in concept not visual) is not like the image of war in our mind in which war is a (political) act of involved parties for power, wealth or conquest of territory. Fazar is different. He draws his war line from his personal acts and everyday life. Fazar is spinning a story of his “small” world which is expected to be able to reach the “big” world. Fazar’s “War of Zone” is a dynamic of his everyday life which must be faced every time and formed his character that is always “ready to fight” if needed. Immortal War that will not end unless the life taken away from the body. “It is not a big issue that sparked a mass war, but maybe only through a small event in one’s life,” (Anonymous).</p>
<p>Visual (Reference)<br /> The visual objects in his paintings are taken from various sources and references which he thinks fit to be a symbol or association of what he wants to display of the theme. Fazar takes his reference from various cultural, environment and state; from various myths, legends, and stories. From a daily life of human on earth, general knowledge of things, life on land, sea and air. So we see a fairy figure of Daphne and Apollo god from Greek mythology; a dragon from Chinese folklore; giant robot; animals like ants, eagles, owls, rats, snails, octopuses, sea horses, geese; clouds, fire, ice, water and lightning. There is a battle, murder; anger, pain and passion. Fazar’s drawing area is a sprinkle of various “text” both eclectic and global. Present not for the sake of space and time but only as a reference to strengthen the overall meaning arising from their appearance on drawing area.</p>
<p>A smooth and banal “intertextual” practice is what Fazar paintings offered, as an effect of consumer behavior that is endemic to anyone right now. Consumption pattern that “enter’ into a drawing area, since its introduction by Pop Art, gives effect to increasingly diverse and unpredictable interpreting behavior. It definitely changes the audience. On the other hand, the structure of Fazar paintings gives a contribution to the “design” of the paintings itself that not only prioritize the contents of the message, but also the shape objects, which become the medium of the message. As a result, the process of interpretation and appreciation is primarily directed to recognized shape object, one by one, and then the meaning of its presence in the drawing area, and its relationship with other objects. From there, the construction of the object is forced to be re-read as a whole where the reflection of the meaning or the new implicit message can be found.</p>
<p>Writer: Eddy Soetriyono<br /> Officiated by : Mr. Tisna Sanjaya (Artist &amp; Art Lecture)<br /> Host : Mr. Rahmat Bastian</p>
<p>Start Time: Wednesday, March 24, 2010 at 7:30 pm<br /> End Time: Saturday, April 24, 2010 at 8:00 pm<br /> Venue: Srisasanti Arthouse<br /> Address: Jl. Kemang Raya No.81, Jakarta, Indonesia 12730<br /> Email: srisasantiarthouse@yahoo.com</p>
<!-- PHP 5.x -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arttitudes.org/exhibition/immortal-war.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SOUNDTRACK &#8211; A SOLO EXHIBITION OF YAYAT SURYA</title>
		<link>http://arttitudes.org/exhibition/soundtrack-a-solo-exhibition-of-yayat-surya.html</link>
		<comments>http://arttitudes.org/exhibition/soundtrack-a-solo-exhibition-of-yayat-surya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 10:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[arif bagus prasetyo]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[contemporary]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[nur iswantara]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[srisasanti arthouse]]></category>
		<category><![CDATA[yayat surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1217</guid>
		<description><![CDATA[[ December 2, 2009; 7:30 pm; ] Kembali Srisasanti Arthouse, yang merupakan bagian dari Srisasanti Syndicate, bermaksud menyelenggarakan sebuah Pameran Tunggal Seni Visual, menampilkan karya-karya seni rupa dengan tema dan gaya terkini. Pameran tunggal kali ini mempersembahkan karya-karya dua dimensi dan tiga dimensi dari seorang perupa bernama Yayat Surya. Yayat Surya, perupa asal Cirebon, menempuh pendidikan seni terakhirnya di Institut Seni Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1218" title="soundtrack" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2009/11/soundtrack.jpg" alt="soundtrack" width="200" height="158" />Kembali Srisasanti Arthouse, yang merupakan bagian dari Srisasanti Syndicate, bermaksud menyelenggarakan sebuah Pameran Tunggal Seni Visual, menampilkan karya-karya seni rupa dengan tema dan gaya terkini. Pameran tunggal kali ini mempersembahkan karya-karya dua dimensi dan tiga dimensi dari seorang perupa bernama Yayat Surya. Yayat Surya, perupa asal Cirebon, menempuh pendidikan seni terakhirnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan kemudian menetap secara permanen di Yogyakarta.</p>
<p>Yayat Surya membuka babak baru dalam perjalanan artistik-nya dengan “Soundtrack”, seri lukisan dan patung terbarunya. Pameran ini akan ditampilkan di Srisasanti Arthouse, sebagai sebuah ekspedisi ke dunia Post-Pop, perjalanan penuh warna ke sejarah musik pop dunia bersama para ikon-nya.<span id="more-1217"></span></p>
<p>Yayat Surya lama dikenal dengan bentuk-bentuk seni geometrikal-nya, yang terinspirasi oleh simbol-simbol ketimuran seperti I-Ching dan Mandala. Kini dia menampilkan simbolisme seni I-Ching kedalam karya-karya Pop Art-nya. Setelah seri lukisan lanskap-nya yang didasari dari simbolisme I-Ching dan Mandala, Yayat Surya kini mengeksplorasi imej-imej para musisi pop. Karya-karya Yayat berkisah tentang kehidupan mereka, dan sudut pandang mereka atas kehidupan. Karya-karya tersebut menampilkan Elvis Presley, John Lennon, Jim Morrison, Marilyn Manson, Mick Jagger, Miles Davis, Prince, Michael Jackson, Freddy Mercury, Bono, Kurt Cobain, Janis Joplin, Patti Smith, penyanyi Iwan Fals, dan band rock Indonesia, Slank. Mereka semua dikenal sebagai seniman yang lantang dan kritis –dengan cara mereka masing-masing; sebagian mengekspresikan protes mereka melalui lirik dan lagu, sebagian lainnya melakukannya melalui gaya hidup mereka. Pilihan menampilkan dua orang musisi wanita dan dua musisi wakil dari Indonesia, hanya untuk menunjukkan struktur kekuatan di dalam dunia musik populer selama ini.</p>
<p>Semua musisi yang dipilih oleh Yayat Surya untuk lukisan potret Post-Pop-nya, merupakan wakil dari sebuah semangat pemberontakan. Si seniman ingin keluar dari batas-batas formal Pop Art. Dia menganggap Pop Art-nya Andy Warhol dan lainnya, sebagai tak bermakna. Semacam seni tanpa pesan-pesan –kecuali sebagai produk pemujaan terhadap konsumerisme dan materialisme. Para musisi yang digambarkannya, mengomentari berbagai persoalan dalam masyarakat dengan lagu-lagu mereka, sehingga pesan-pesan tersebut bisa dipahami sebagai sebuah kontribusi yang penting dan signifikan. Yayat Surya tertarik kepada figur-figur kontroversial yang mempengaruhi generasi pecinta musik. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kontradiksi mereka sebagai selebritis, yang hidup dalam ketenaran dengan berbagai godaannya.</p>
<p>Saat menampilkan kembali imej-imej musisi rock dan jazz tersebut, Yayat bermain dengan ilusi optik, menghasilkan semacam efek psychedelic, menggunakan piksel sebagai bahan dasar lukisan potretnya; dengan warna-warni yang hidup dan ekspresif. Lukisan-lukisan tersebut menggabungkan elemen-elemen visual berbeda dimana wajah-wajah para musisi populer itu ditutupi dengan tulisan-tulisan bersumber dari kutipan pernyataan asli sang bintang yang di ambil dari hasil wawancara dan sumber lainnya. Elemen visual lainnya adalah hexagram I-Ching yang ada dimana-mana, menjadi semacam esensi dari karakter atau situasi sosial yang menggambarkan sang bintang. Ditambah dengan kutipan-kutipan dari music score, mewakili lagu-lagu yang menimbulkan aspek kontroversi dalam pesan-pesan musik rock. Secara bersamaan simbol-simbol ini membentuk komposisi ritme, warna dan bentuk yang luar biasa.</p>
<p>Karya-karya tiga dimensional-nya mengacu kepada bentuk-bentuk realis dari Pop Art, namun dengan perilaku yang ironis. “Hard Rock I-III” adalah tentang machoisme yang dipertontonkan dalam dunia musik rock; “Sailor John” memperlihatkan John Lennon, lelaki yang menulis lagu “Give Peace a Chance” dalam pakaian seragam Angkatan Laut.</p>
<p>“Soundtrack” mengingatkan akan kefanaan seni dan kehidupan; warisan para musisi adalah lagu-lagu mereka, menjadi soundtrack bagi generasi yang akan datang. Musik rock biasa dilambangkan dengan kemudaan. Namun sekali pahlawan muda itu mulai berumur, musik dan semangat muda mereka tetap berlanjut.</p>
<p>Sebagai pembuka dari pameran “Soundtrack”, Yayat Surya sendiri akan menampilkan performance art; sekaligus pemutaran video klip ‘Soundtrack” selama berlangsungnya pembukaan pameran.</p>
<p>Bagaimanapun juga, ini semua tentang musik…</p>
<p>Kurator “Soundtrack”<br />
Anton Larenz</p>
<p>Penulis “Soundtrack”<br />
Arief Bagus Prasetya<br />
Nur Iswantara</p>
<p>Dibuka oleh : Mrs. Dian M. Soedarjo (Harper’s Bazaar Indonesia)</p>
<p><strong>Start Time</strong>:	Wednesday, December 2, 2009 at 7:30pm<br />
<strong> End Time</strong>: Sunday, December 20, 2009 at 8:00pm<br />
<strong> Location</strong>: Srisasanti Arthouse<br />
<strong> Address</strong>: Jalan Kemang Raya No. 81 Jakarta, Indonesia</p>
<!-- PHP 5.x -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arttitudes.org/exhibition/soundtrack-a-solo-exhibition-of-yayat-surya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelah Mata</title>
		<link>http://arttitudes.org/exhibition/sebelah-mata.html</link>
		<comments>http://arttitudes.org/exhibition/sebelah-mata.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 14:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fiona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curatorial]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[fendi siregar]]></category>
		<category><![CDATA[pameran]]></category>
		<category><![CDATA[photography]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[srisasanti arthouse]]></category>
		<category><![CDATA[tris neddy santo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arttitudes.org/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[[ November 10, 2009; 7:30 pm; ] Menapak jejak langkah Sang Maestro Fotografi Fendi Siregar

Menelusuri ruang demi ruang kerja kreatif fotografer Fendi Siregar terasa mampu membangkitkan kepekaan kita akan nuansa seni yang bernilai tinggi dalam sajian atmosfer yang berbeda. Kita seolah olah diajak bersama menjelajahi perjalanan kehidupan dunia fotografi Fendi Siregar yang sejak lama digelutinya semenjak Fendi mengenal kamera di usia muda 5 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1146" title="Sebelah Mata" src="http://arttitudes.org/wp-content/uploads/2009/11/112.jpg" alt="Sebelah Mata" width="200" height="66" />Menapak jejak langkah Sang Maestro Fotografi Fendi Siregar</p>
<p>Menelusuri ruang demi ruang kerja kreatif fotografer Fendi Siregar terasa mampu membangkitkan kepekaan kita akan nuansa seni yang bernilai tinggi dalam sajian atmosfer yang berbeda. Kita seolah olah diajak bersama menjelajahi perjalanan kehidupan dunia fotografi Fendi Siregar yang sejak lama digelutinya semenjak Fendi mengenal kamera di usia muda 5 tahun akibat kedekatan dengan ayahnya yang menggemari dunia fotografi.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu kemahiran dalam penguasaan dunia fotografi berkembang pesat dan menjadi starting point dibidang fotografi saat Fendi Siregar mengawali kuliahnya di Fakultas Komunikasi Universitas Pajajaran/ UNPAD, Bandung tahun 1969. <span id="more-1147"></span>Pada waktu bersamaan pula ayahnya menghadiahkan sebuah kamera foto merk Nikon untuk menunjang perkuliahan sebagai alat untuk melengkapi foto dokumentasi ilmu yang sedang digelutinya, walau bukan kamera baru namun kamera tersebut telah berjasa dalam mempertajam kepekaannya di bidang fotografi .</p>
<p>Keinginan kuat untuk lebih memperdalam bidang fotografi dilakukannya dengan bergabung dalam Perkumpulan Amatir Foto Bandung yang diketuai oleh Prof. Dr Sularko, sebagai wadah organisasi fotografi yang terkenal saat itu di Bandung serta mampu mendukung kegiatan hobbynya .</p>
<p>Pelajaran serta wawasan yang didapatnya melalui Perkumpulan Amatir Foto mengenai pemahaman akan aliran fotografi konvensional didapatnya melalui tema salon seperti layaknya hasil jepretan yang banyak mengangkat keindahan pemandangan alam, style life maupun human interest sebagai standard keindahan dari karya fotografi .<br />
Sehingga hal ini kemudian menimbulkan pemberontakan Fendi Siregar , menurutnya keinginan serta harapan untuk memperdalam bidang fotografi tidak melulu hanya dari kontek konvensional namun perlu didukung oleh hal hal pembaruan lainnya, disisi lain Fendi ingin menciptakan karya foto melalui sudut pandang yang berbeda, terutama dalam mengungkapkan suatu gagasan pembaruan dari hal hal yang bersifat konvensional menjadi sebuah karya fotografi yang mampu menjajikan imagi karya yang bersifat kekinian melalui gagasan ide inovatif .</p>
<p>Setelah menyelesaikan kuliahnya di Bandung Fendi Siregar kemudian memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, disini nampak jelas perjalanan serta Perkembangan pesat Fendi Siregar didunia fotografi yang saat itu telah mampu merambah kedalam kebutuhan fotografi untuk dunia periklanan dan kemudian melibatkannya sebagai salah satu fotografer yang mampu mengisi kebutuhan tersebut didunia periklanan saat itu, sebagai mitra kerjanya dari beberapa kantor periklanan saat itu seperti , Indo Ad, Fortune, Matari, maupun Inter Ad Mart serta Lintas, hal ini tentunya telah memberi pula andil dalam memperkaya pengalamannya di bidang fotografi .</p>
<p>Dilain sisi Fendi memiliki hubungan erat bersama komunitas dunia seni dan desain maupun Lembaga Pendidikan Seni yang pada ahirnya telah mempertemukannya dengan Wagiono Soenarto yang saat itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ serta mengajaknya turut bergabung mengembangkan Fakultas Seni Rupa IKJ sebagai pengajar mata kuliah fotografi di Fakultas Seni Rupa.<br />
Demikian juga Dekan FFTV, Pak Tom yang saat itu merintis pembukaan jurusan Fotografi di fakultas yang dipimpinnya meminta Fendi Siregar mengajar Fotografi dan peran Fendi Siregar di FFTV dapat dianggap sebagai salah satu perintis jurusan Fotografi FFTV IKJ.<br />
Keterlibatan Fendi sebagai pengajar di Fakultas Seni Rupa maupun Fakultas Film dan Televisi IKJ telah mampu mengasah kemahiran Fendi Siregar dalam menciptakan karya kolaborasi antar seni tari dan video art sebagai sebuah karya monumental yang sarat akan pesan terhadap kelestarian lingkungan, berupa karya cemerlang yang bersinergi dengan ketiga bidang kesenian tersebut, hal ini disajikannya kedalam salah satu karya video artnya sebagai karya yang mengusung fragment kehidupan, mengenai kepedulian terhadap lingkungan yang dikemas melalui seni video, seni tari yang ditarikan oleh seniman seni pertunjukkan Restu dengan mengambil lokasi di hutan yang teerbakar di pulau Kalimantan, karya video art ini mampu ditampilkan tanpa dukungan effek sound/ suara/ tanpa narasi untuk mencari dana bagi kelestarian lingkungan didunia, dan karya ini dipertunjukan dibeberapa tempat didunia dalam usaha penggalangan dana bagi kelestarian lingkungan .</p>
<p>Figure manusia yang diambil melalui pendekatan emosi kadang mengangkat sense of humor telah turut memperkaya penyajian karyanya. Banyak karya karya fotografinya yang mengangkat kehidupan dari tokoh seni pertunjukkan, mulai dari kehidupan belakang panggung maupun peran penari panggung dari seni ludruk yang mampu diangkatnya menjadi beberapa hasil jepretan karya seni fotografi penuh narasi mengenai kehidupan seorang penari Ludruk, begitu pula tokoh lainnya seperti Didi Nini Towok yang mampu diangkatnya sebagai karya human interest yang menarik, belum lagi salah satu foto yang menampilkan raut wajah tua penuh makna akan pengalaman kehidupan yang telah dijalani sepanjang usianya dari tokoh penari Topeng Tradisi Cirebon Mimi Rasinah yang mampu diangkatnya melalui jepretan pandang view berbeda yang mempertegas ekspresi wajah penuh makna dari Mimi Rasinah.</p>
<p>Disamping kegiatan rutinitas sebagai pengajar, profesinya sebagai fotografer tetap dilakukan dan telah banyak menghasilkan karya karya fotografi melalui berbagai pendekatan serta keragaman ide yang menarik . Profesinya sebagai pengajar seni Rupa telah pula mempertajam kepekaan estetis yang didapat melalui pengalamannya mengajar serta melalui sudut pandang pemahaman terhadap dunia estetika serta kaidah keindahan yang berhasil diungkapkan melalui ide gagasan dalam karya fotografinya dengan mengangkat elemen texture, warna, bidang, maupun garis dan unsur ruang maupun kaidah kaidah senirupa lainnya dalam penciptaan karya komposisi hingga pencapaian keselarasan sebagai ungkapan imagi visual kedalam karya yang diciptakan yang nampak jelas terlihat dari karya yang memperlihatkan suasana upacara tradisi di Imogiri kedalam karyanya berupa sebuah komposisi alam yang menampilkan barisan prajurit Kraton denngan pakaian tradisional Jawa yang diambil dari arah belakang di Pemakaman Imogiri yang disajikan melalui kaidah keseimbangan dipertegas melalui busana sarung batik beragam motif dari si pemakainya mampu mengangkat keindahan keragamam patern batik , didukung penampilan effek bayangan figure serta warna merah dan hitam dari busana prajurit dibagian tengah barisan yang diangkatnya sebagai unsur point of interest, berhasil menjadi karya fotografi seni yang menarik.</p>
<p>Fendi mampu mengangkat makna elemen estetis dari kehidupan sehari hari yang didapatnya melalui perjalanan yang dilakukannya ditempat tempat yang dianggapnya menarik,seperti pegunungan Dieng, Ambarawa, Bromo maupun daerah di Indonesia lainnya baik berupa figure manusia, effek cahaya maupun efek texturedan garis yang ditimbulkan secara alami dari keindahan alam pegunungan, ripitasi dari jajaran elemen garis mengalun kondisi alam lingkungan seperti hamparan padang pasir Bromo, maupun lereng puncak Bromo bahkan bentuk texture tidak beraturan dari gedung tua atau benda benda lain yang menarik baginya. seperti yang telah dilakukannya saat berada di Imogiri melalui momentum yang tepat dari suatu kondisi keadaan maupun perjalanan waktu yang banyak mengangkat tradisi kehidupan setempat melalui sebelah mata Sang Maestro Fendi Siregar yang mungkin tak terpikirkan oleh fotografer lainnya .</p>
<p>Suasana Kota Jakarta penuh dinamis dari kehidupan masyarakat Urban Jakarta kota , telah banyak memberikan ide inspirasi bagi para fotografer dalam proses berkarya melalui kamera, dimana tata letak bangunan serta kesemerawutan dari kehidupan masyarakat kota sering diangkat sebagai obyek menarik dalam karyanya, seperti kondisi perkampungan yang padat penduduk, suasana keramaian di pertokoan maupun onggokan sampah dengan aktifitas pemulungnya maupun perbedaan yang jelas dari kehidupan sosial masyarakat kota dengan segala problematik kehidupan maupun hal hal yang berkaitan dengan sosial budaya, warisan masa lalu yang berhasil diabadikan oleh fotografer Perancis, Herve’ Dangla yang dikemas dalam bukunya berjudul, Belantara Jakarta” ditahun 1994, sebagai wujud realitas yang banyak ditemui dikota besar di Indonesia yang diangkat sebagai kumpulan karya fotografi Herve’ Dangla yang menampilkan kondisi Jakarta melalui karya kadang penuh narasi didukung kehadiran sosok figure yang diangkat guna mempertegas kondisi sosial masyarakatnya melaui denyut kesibukan kota Jakarta sehari hari .</p>
<p>Namun pada karya karya fotografi Fendi Siregar telah berhasil mengungkapkan sisi lain dari kota Jakarta melalui imagi yang berbeda dari hasil kegiatan perjalanan yang kerap kali dilakukannya menelusuri ruang demi ruang realitas dan mengabadikannya melalui jepretan kameranya. Proses kerja kreatif dalam mengambil momentum dari suasana yang ingin diangkat melalui sudut sebelah mata sebagai pilihannya serta memanfatkan ketepatan waktu maupun cahaya alam telah mampu merealisir obyek obyek foto yang menarik dari Fendi Siregar melalui pengamatan out door dengan melewati jalan jalan penuh bangunan serta hutan belantara billboard, diawali dari daerah Tanah Abang menuju kota tua Batavia yang sarat dengan nilai sejarah dan bangunan tua bergaya Kolonial hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, yang kemudian diungkapkan melalui karya fotografi melaui sentuhan kerja estetis yang didapat dari pengalaman sebagai pendidik didunia seni rupa, seperti mengangkat keberadaan unsur elemen estetis mulai dari permainan texture dari bangunan tersebut namun disisilain mampu menceritakan nilai sejarah dari masa bangunan tersebut.<br />
Seringnya Fendi Siregar mengunjungi daerah tersebut telah membuatnya pribadinya dikenal oleh penduduk setempat, hal ini semua justru memperkaya karakter karya karya yang memiliki kepekaan akan nilai kemanusiaan yang tinggi, seolah olah memiliki jiwa / soul ketika kita mengamati karya melalui ketepatan waktu secara ekspresif / desensive moment.</p>
<p>Banyak karya fotografinya diciptakan melalui hasil bidikan lensa nya tanpa batasan batasan framing dan tidak konstruktif, ditunjang makna kebebasan yang tinggi menghasilkan karya fotografi penuh pesan maupun ungkapan narasi dari pernyataan visualnya .<br />
Semangat dalam kerja kreatif untuk menciptakan karya karya baru melalui keberanian menyalahi aturan konvensional ternyata menghasilkan karya yang bersifat Avant Garde, seperti diucapkan secara lugas ketika menjelaskan hal hal tang berkaitan dengan dunia kerja kreatif nya , “ Break The rule ternyata hasilnya OK “, hal ini tampak pada karya fotonya dari bangunan yang nampak terbelah oleh sebuah tiang tonggak tiang yang sengaja diangkatnya sebagai obyek foto yang menarik dari hasik karya yang berani ditampilkan dari sudut pandang sebelah mata Fendi Siregar.<br />
Pada karyanya yang lain kita diajak untuk menikmati suatu situasi yang ditampilkan secara kontradiksi dan dikemasnya menjadi suatu karya baru dari sudut pandang sesuatu yang jarang terpikirkan dan kadang berpadu melalui garapan sense of humor yang dimilkinya .</p>
<p>Kemahirannya dalam proses kerja kreatif melalui permainan efek cahaya mampu penyajian sudut pandangnya yang bersifat dramatis yang mampu mengangkat suasana dari pemandangan alam serta kegiatan aktifitas penduduknya dalam kehidupan sehari hari serta kegiatan upacara ritual dari kepercayaan yang dianut yang diambilnya di Gunung Bromo dan pegunungan Dieng salah satu karya dari kegiatan kala matahari terrbit di puncak Gunung Bromo, bagaiman Fendi Siregar mampu menciptakan efek cahaya yang timbul membentuk pola setengah lingkaran terbalik di atas Gunung Bromo serta mampu menghadirkan suasana dramatis dengan kehadiran sosok figure manusia yang sibuk melakukan kegiatan dipagi hari.<br />
Begitu pula Karya karya yang ditampilkan dalam penyajian penuh pesan melalui penyajian obyek yang bersifat kontras namun berhasil melahirkan makna baru, seperti karya foto yang menampilkan kesan jauh dekat, kesan efek ketajaman maupun efek bleur, kesan kekinian dan masa lalu atau pada salah satu karyanya yang menampilkan tema dialog melalui karya berupa ekspresi wajah anak muda dan wajah seorang tua. Keseluruhan karya karyanya merupakan suatu pernyataan kontradiksi yang diangkat melalui hasil penjelajahan kerja kreatif Fendi Siregar yang sarat akan ide gagasan serta kematangan dalam olahan estetis yang bernilai tinggi.</p>
<p>Ide ide cemerlang lainnya juga tak luput dari pengamatannya seperti perhatiannya pada dunia transportasi mampu diangkatnya sebagai obyek menarik lainnya, makna sebuah sepeda, makna kereta api kuno bahkan kendaraan modern dan mewah mampu dikemasnya secara menarik melalui sudut pandang seni Fotografi, semua ini dapat kita nikmati melalui karya karya yang ditampilkan dalam pameran ini.<br />
Fendi sanggup menampilkan dalam sisi yang bersifat kontradiksi dari hasil jepretan tanpa batasan aturan yang mengekangnya, faktor kebebasan dalam ekspresi karyanya justru telah memperkaya kerja kreatifnya dalam menampilkan sisi kehidupan alam benda, melalui sisi pengamatan sebelah mata yang tidak dapat dirasakan oleh masyarakat lainnya terciptalah karya yang nampak menampilkan perpaduan kontradiksi dari kehidupan masa lalu dan masa kini .</p>
<p>Kecintaan nya terhadap keragaman budaya Indonesia tak dapat dipungkiri lagi terutama dalam mengamati karya karya yang mengangkat makna Heritage Seni Budaya Indonesia, kadang dihadirkan melalui obyek menarik melalui teknik cropping sebagai obyek penting seperti sebilah keris, busana tradisional Indonesia, sosok penari ludruk, ataupun suasana karapan sapi serta peninggalan bangunan tua Kolonial di Jakarta maupun Ambarawa yang banyak menampilkan keragaman karakteristik Struktural Desain serta Elemen Estetis lainnya pendukung keindahan bangunan tersebut dan sering dijadikan obyek pemotretannya untuk mengangkat nilai sejarah bangunan tua tersebut.<br />
Salah satu karyanya yang diambilnya saat berada di Ambarawa menampilkan selasar teras bangunan Kolonial dengan deretan pintu bergaya Segmental Arch yang mampu menunjukkan keindahan akan makna heritage bangunan tersebut.<br />
Karya yang banyak mengandung makna filosofi kehidupan tradisi Adiluhung budaya jawa yang ditampilkan melalui karya foto menarik yang menampilkan imagi barisan tentara kraton Jawa penuh dengan nuansa sejarah dan kultur namun berhasil ditampilkannya dalam sudut yang berbeda dari cara memadukannya dengan kendaraan modern masa kini dipertegas lagi dengan sifat warna yang kuat, kita semua diajak untuk terlibat akan makna Tradition and Modernity melalui karya yang ditampil karyanya yang kontradiksi .<br />
Disisi lain nampak karyanya yang menampilkan kontradiksi dari dua sosok wajah figure manusia melalui ekpresi karakter wajah yang berbeda dan bersifat kontras yang diambil dari sudut pandang usia,melalui karakter wajah muda dan tua .<br />
Pemilihan atas obyek obyek fotonya memberikan gambaran terhadap sosok Fendi yang telah mampu menjelajahi perjalanan karyanya mulai dari keindahan alam Ambarawa , hasil jepretan melalui pengamatan sejarah, budaya maupun tradisi yang kaya akan pengungkapan makna heritage peninggalan sejarah dan budaya bangsa , ,serta pendekatan emosi melalui ekpresi wajah dari figure figure manusia yang dijumpai dalam kehidupan keseharian maupun hasil perjalannan mengunjung daerah daerah di Indonesia .</p>
<p>Ahirnya kita semua diajak untuk sama sama menikmati ruang demi ruang, menelusuri perjalanan kerja kreatif Fendi Siregar sebagai salah satu pendalaman apresiasi seni melalui karya karya fotografinya yang kaya akan penggarapan ide gagasan cemerlang serta kepekaan citra seni yang bernilai tinggi dari keragaman hasil jepretan lensanya di Galeri Srisasanti.<br />
Perjalanan Fendi Siregar melalui bagian dari kehidupannya di dunia fotografi yang telah dikenalnya semenjak usia dini ,<br />
Melalui keindahan alam bumi Indonesia dan keragaman Seni budaya Tradisi Indonesia keindahan artifak sejarah dari nuansa Heritage penuh karisma dari artefak peninggalan Tradisi Budaya berupa keris bahkan kekagumannya akan derap langkah prajurit Kraton Jawa yang sarat akan makna tradisi Adiluhung Budaya Bangsa, semua tak luput dari pengamatan sosok Fendi Siregar yang kemudian berhasil dijepretnya ketika ia menelusuri pelosok Indonesia mulai dari suasana desa, kota maupun penjelajahan antar pulau untuk diabadikan sebagai moment penting yang kena dihatinya dalam meningkatkan apresiasi seni fotografi melalui upaya untuk berkomunikasi dengan masyarakat pencinta seni serta mengetengahkan hasil pemikiran inovatif nya dalam mengantisipasi kemudahan teknologi mutahir di bidang fotografi baik teknik maupun pemilihan media hasil produk Industri yang sedang marak saat ini dengan adanya kemudahan teknik computer imagery seperti teknik foto shop serta teknik digital Art.</p>
<p>Selamat berpameran Fendi Siregar<br />
Semoga tetap muncul karya karya inovatif penuh garapan artistik seiring totalitas kecintaannya terhadap dunia fotografi dalam menjelajahi obyek obyek menarik di bumi Indonesia yang masih belum sempat terjamah oleh sentuhan jepretan kamera Fendi Siregar .</p>
<p>Tris Neddy Santo<br />
Kurator</p>
<p><strong>Start Time</strong>: Tuesday, November 10, 2009 at 7:30pm<br />
<strong> End Time</strong>: Tuesday, November 17, 2009 at 8:00pm<br />
<strong> Location</strong>: Srisasanti Athouse<br />
<strong> Address</strong>: Jalan Kemang Raya No. 81, Jakarta 12730</p>
<!-- PHP 5.x -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arttitudes.org/exhibition/sebelah-mata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->